“Justice for Audrey” Tiga pelaku pengeroyokan siswi smp alami depresi

0
32

Dunia pendidikan kita sekali lagi dirundung malang. Kasus Audrey hanyalah satu dari tak terhitung kasus perundungan di sekolah. Beberapa waktu yang lalu juga terjadi peristiwa seorang siswi SMA di Mojokerto mengalami kelumpuhan setelah mendapat hukuman scot jam oleh seniornya. Seolah belum kering mulut bercerita tentang kisah tersebut segera disusul dengan peristiwa berikutnya yaitu perkelahian antarteman sebaya anak SD di Garut hingga meninggal,pemicunya hanya gara-gara masalah terkait buku pelajaran.

Sekolah adalah tempat terpenting kedua bagi anak-anak setelah keluarga. Mereka menghabiskan waktu hampir satu hari penuh dari pagi hingga menjelang petang di sekolah. Karena itu sudah seharusnya kita lebih fokus untuk berbenah. Masing-masing kembali kepada fitrah sebagai orangtua yang harus melindungi anak, dan fitrah guru sebagai pendidik dan pemberi contoh pada situasi anak-anak selama dalam proses pembelajaran di sekolah.

Sekretaris Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pribudiarta Nur Sitepu mengatakan tiga siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) yang merupakan pelaku penganiayaan terhadap ABZ (14) mengalami depresi. Bahkan satu orang pelaku harus ditangani secara khusus.

kata Pribudiarta dalam jumpa pers di Kementerian PPPA, Jakarta, Kamis (11/4).

Dia menuturkan pelaku kekerasan tersebut juga mendapatkan penanganan psikolog karena merasa terguncang.

“Jadi kondisi pada hari ini sebenarnya juga perlu diketahui oleh semua pihak bahwa anak itu depresi berat. Dan itu sudah menjadi hukum sosial, untuk apalagi dihukum lagi, kan karena hukum masyarakat itu sudah sangat keras,” ujarnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here